Kinetika kimia
adalah suatu ilmu yang membahas tentang laju (kecepatan) dan mekanisme
reaksi. Berdasarkan penelitian yang mula – mula dilakukan oleh Wilhelmy
terhadap kecepatan inversi sukrosa, ternyata kecepatan reaksi berbanding lurus
dengan konsentrasi / tekanan zat – zat yang bereaksi. Laju reaksi dinyatakan
sebagai perubahan konsentrasi atau tekanan dari produk atau reaktan terhadap
waktu.
Berdasarkan
jumlah molekul yang bereaksi, reaksi terdiri atas :
- Reaksi unimolekular : hanya 1 mol reaktan yang bereaksi.Contoh : N2O5 → N2O4 + ½ O2
- Reaksi bimolekular : ada 2 mol reaktan yang bereaksi.Contoh : 2HI → H2 + I2
- Reaksi termolekular : ada 3 mol reaktan yang bereaksi.Contoh : 2NO + O2 → 2NO2
Berdasarkan
banyaknya fasa yang terlibat, reaksi terbagi menjadi :
- Reaksi homogen : hanya terdapat satu fasa dalam reaksi (gas atau larutan)
Reaksi heterogen
: terdapat lebih dari satu fasa dalam reaksi.
Sistem termodinamika
adalah
sejumlah tertentu dari materi yang terkandung dalam suatu permukaan tertutup.
Permukaan tersebut biasanya sangat mudah dikenali seperti misalnya silinder
yang menyimpan gas pada gambar 1.1. Akan tetapi dapat pula berupa suatu
pembataas imajiner seperti batas berubah bentuk yang mengelilingi sejumlah
massa tertentu yang mengalir melalui suatu pompa. Pada gambar 1.1, yang
dimaksud dengan sistem adalah gas bertekanan, fluida kerjadnya, sedangkan yang
menjadi batas sistemnya ditunjukkan oleh garis putus-putus.
Semua materi dan ruang yang berada di
luar suatu sistem kolektif disebut sebagi lingkungan (surrounding) dari
sistem tersebut. termodinamika berurusan dengan interaksi antara suatu sistem
dengan lingkungannya, atau antara suatu sistem dengan sistem lainnya. Suatu
sistem berinteraksi dengan lingkungannya melalui transfer energi melewati
pembatasnya. Tidak ada materi yang melintasi pembatas dari suatu sistem. Jika
sistem tersebut tidak bertukar enegeri dengan lingkungannya, sistem tersebut
disebut sistem terisolasi.
Dalam banyak
kasus, analisis disederhanakan jika focus perhatiannya adalah suatu volume
dalam ruang ke mana, atau dari mana, suatu zat (substance) mengalir.
Suatu volume demikian disebut volume kontrol (control volume). Pompa,
turbin, balon pemompa (inflating balloon), adalah contoh-contoh dari
volume kontrol. Permukaan yang secara penuh mengelilingi volume kontrol disebut
suatu permukaan kontrol (control surface)
Kontrol Kinetik dan Kontrol Termodinamika
Ada banyak hal di mana suatu senyawa di bawah kondisi reaksi yang diberikan
dapat mengalami reaksi kompotisi menghasilkan produk yang berbeda.
Gambar diatas memperlihatkan profil energi-bebas untuk suatu reaksi di mana
B lebih stabil secara termodinamika daripada C (∆G lebih rendah), tapi C terbentuk lebih cepat (∆G‡ lebih rendah).
Jika tidak ada satupun reaksi yang revesibel maka C akan terbentuk lebih
banyak karena terbentuk lebih cepat. Produk tersebut dikatakan terkontrol
secara kinetik (kinetically controlled). Akan tetapi, jika reaksi adalah
reversibel maka hal tersebut tidak menjadi penting. jika proses dihentikan
sebelum kesetimbangan tercapai maka reaksi akan dikontrol oleh kinetik karena
akan lebih banyak diperoleh produk yang cepat terbentuk.
Akan tetapi jika reaksi dibiarkan sampai mendekati kesetimbangan maka
produk yang akan dominan adalah B. Di bawah kondisi tersebut, C yang mula-mula
terbentuk akan kembali ke A, sementara B yang lebih stabil tidak berkurang
banyak. Maka dikatakan bahwa produk terkontrol secara termodinamik (thermodynamically
controlled). Tentu saja Gambar 5.4 tidak menggambarkan semua reaksi dalam
mana senyawa A dapat memberikan dua produk. Di dalam banyak hal, produk yang
lebih stabil adalah juga merupakan produk lebih cepat terbentuk. Di dalam hal
yang demikian, produk kontrol kinetik adalah juga produk kontrol termodinamika.
Beberapa reaksi kimia mempunyai kemampuan untuk
menghasilkan lebih dari satu produk. Jumlah relatif dari produk yang dihasilkan
lebih sering tergantung pada kondisi reaksi saat reaksi berlangsung. Perubahan
pada jumlah reaktan, waktu, temperatur, dan kondisi yang lain dapat
mempengaruhi distribusi pembentukan produk dari reaksi kimia tersebut.
Alasannya dapat dimengerti dari dua konsep penting
yaitu:
1. Stabilitas relatif secara termodinamik dari
produk yang dihasilkan.
2. Kecepatan relatif secara kinetik pada saat
produk terbentuk.
Kinetika berkaitan kecepatan reaksi, termodinamika
berkaitan dengan stabilitas intermediet atau produk yang terjadi. Reaksi
karbonil merupakan contoh reaksi yang menarik untuk membahas control reaksi. Hal
ini dikarenakan banyaknya produk yang bisa saja terbentuk jika tidak dikontrol
secara ketat. Ini berkaitan dengan adanya “diverse reactivity” senyawa
karbonil. Di satu sisi dia bisa berperilaku sebagai elektrofil, namun juga bisa
bersifat nukleofil pada kondisi tertentu. Satu contoh misalnya pada reaksi
Aldol, dengan 2 reaktan (A dan B) yang sama-sama mempunyai hidrogen alfa, maka
kemungkinan reaksi yang terjadi: A + A, A + B, B + A, dan B + B. Artinya,
selain adanya kondensasi silang, juga terdapat selfcondensation. Belum selesai
masalah tersebut jika ternyata senyawa A ata B berupa molekul asimetri sehingga
adanya 2 kemungkinan H alfa yang menghasilkan intermediet yang berbeda
(regioselektivitas).
Kemoselektivitas dan regioselektivitas, merupakan
faktor penting yang harus diperhitungkan dalam reaksi. Bagian kedua tentang
pembahasan mengenai kontrol pada 2 self-condensation dan reaksi intramolekular.
Bagian ketiga membahas kontrol pada kondensasi silang, dilakukan dengan 2
pendekatan yaitu:
i) menggunakan reaktan yang salah satunya tidak bisa mengalami enolisasi
(cannot enolise),
ii) menggunakan equivalen enol spesifik.
Kemoselektivitas dan Regioselektivitas
Dalam reaksi dikenal istilah kemoselektivitas dan
regioselektivitas. Kedua selektivitas tersebut dapat dikontrol dengan cara
kinetika dan termodinamika. Kemoselektivitas adalah memilih untuk dapat
mereaksikan salah satu gugus fungsional dari dua gugus yang berada pada satu
molekul.
Contoh pada senyawa karbonil, yang bisa berperan
sebagai nukleofil (sebagai enolat) dan juga elektrofil.
Regioselektivitas adalah memilih untuk dapat
mereaksikan salah satu dari gugus fungsional yang sama pada satu molekul.
Contoh keton asimetris, yang memiliki dua atom C alfa yang bisa berperan
sebagai nukleofil.
Pengertian kinetik dan termodinamik enolat
Senyawa karbonil yang memiliki H alfa jika
diperlakukan pada kondisi asam, akan membentuk enol, sedangkan pada kondisi
basa membentuk ion enolat. Kondisi asam 3 termasuk kontrol termodinamik karena
mengacu pada kestabilan intermediet (enol). Sedangkan kondisi basa, termasuk
kontrol kinetik karena mengacu pada terbentuknya ion enolat yang berjalan
cepat.
Perlakuan metil keton dengan LDA biasanya
menghasilkan hanya lithium enolat pada sisi metil. Enolat ini terbentuk cepat,
dan berikutnya dikenal dengan nama enolat kinetik. Alasan terbentuk cepat:
a. proton pada gugus metil adalah lebih asam
b. terdapat tiga H alfa pada sisi metil dibandingkan 2 H alfa pada sisi
lainnya
c.
terdapat hambatan sterik pada penyerangan LDA pada sisi lain dari gugus
karbonil.
Contoh sederhana yaitu kondensasi antara
pentan-2-on dengan butanal menghasilkan produk aldol kemudian mengalami
dehidrasi menjadi enone (oct-4-en-3-on) dengan katalis asam. Reaksi ini
dikenalkan oleh Gilbert Stork pada tahun 1974.
Enolat lithium kinetik ini stabil pada THF pada
suhu –78 °C dalam waktu yang singkat, namun dapat disiapkan pada suhu ruangan
dalam bentuk silil eter.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa enolat kinetik adalah
enolat yang terbentuk pada sisi keton yang kurang tersubstitusi.
Sedangkan enolat termodinamik yaitu enolat yang
terbentuk pada sisi keton yang lebih tersubstitusi. Hal ini dapat dijelaskan
yaitu sama seperti alkena, suatu enol atau enolat akan lebih stabil pada posisi
yang lebih tersubstitusi. Contoh yang paling sukses dari enol silil
termodinamik adalah 1-fenilpropan-2-on.
Rangkuman perbandingan enolat termodinamik dan kinetik:
Daftar pustaka
pengertian dasar kinetika kimia pdf - Free Download
Ebook PDF Search Engine Makalah Skripsi Tesis at linkpdf.com, page:1 language:
Any Language date: Tuesday 07th of December 2010 06:09:20 PM
http://hannasyaqina.blogspot.co.id/2013/12/kontrol-kinetik-dan-kontrol.html
http://thermo-muspitalestari.blogspot.co.id/2015/03/pengertian-sistem-termodinamika.html
Pertanyaan:
1.
Apa pengaruh kontrol
kinetika maupun kontrol termodinamika terhadap energi yang dihasilkan dalam
suatu reaksi?









Komentar
pertanyaan yang diberikan akan coba saya jawab
Dimana pada kontrol kinetika, semakin bertambahnya energi maka kecepatan reaksinya akan semakin cepat pula. Sedangkan pada kontrol termodinamika kebalikannya. Dimana semakin sedikit energi yang digunakan maka akan semakin lama untuk terjadinya suatu reaksi
pertanyaan yang diberikan akan coba saya jawab
Dimana pada kontrol kinetika, semakin bertambahnya energi maka kecepatan reaksinya akan semakin cepat pula. Sedangkan pada kontrol termodinamika kebalikannya. Dimana semakin sedikit energi yang digunakan maka akan semakin lama untuk terjadinya suatu reaksi
Tatapi untuk energi yang dihasilkan saya kurang paham
Untuk energi yang dibutuhkan
Dikarenakan reaksi irreversibek
Maka kontrol kinetik memerlukan energi yang besar
Sedangkan kontrol termodinamik memerlukan energi yang kecil karena reaksi berlangsung secara reversibel untuk membentuk produk stabil
untuk energinya menurut saya apabila secara termodinamik reaksi mebutukan energi besar sengga butuh pengendalian suhu disini, smentara untuk kontrol kinetik energi yang diperlukan cenderung lebih kecil sengga reaksi berjalan lebih cepat dan produk yang dihasilakn tidak lebih stabil dari produk termodinamik.